Oleh : Salamuddin Daeng
“Vivere pericoloso, tahun nyerempet bahaya, jika Soekarno dulu nyerempet nekolim, sekarang Bung Prabowo nyerempet koruptor kakap Sumber Daya Alam”
Banyak koruptor langsung ditangkap di tahun pertama Pemerintahan Prabowo. Bukan koruptor kelas coro, kelas kabupaten, kelas anggota DPRD. Namun yang ditangkap adalah kelas _Big Fish_ kata yang dipopulerkan oleh Presdien SBY dulu. Prabowo langsung menyasar musuh negara yang paling besar, paling kuat dan paling arogan.
Siapa yang menjadi sasaran tembak utama Presiden? yakni jaringan korupsi yang dapat membeli tunai semua penguasa yang hidup di sepanjang era reformasi ini. Mereka adalah jaringan korupsi Sumber Daya Alam (SDA). Jaringan koruptor paling tangguh di Indonesia atau bahkan paling tangguh di dunia. Bagaimana tidak? jaringan pengusaha sumber daya alam tersebut adalah kelompok di puncak menara kekuasaan Indonesia, yang menguasai tidak kurang dari 65% kawasan hutan Indonesia yang telah mengalami alih fungsi, karena digunakan untuk ekploitasi dan produksi komoditas sumber daya alam (SDA).
Untuk pertama kali di dunia seorang Presiden menangkap jaringan korupsi senilai hampir 1000 triliun rupiah. Sebuah langkah pertama yang paling keras menghantam _core of the core_, inti dari yang inti yakni menangkap koruptor migas dan menjadikan pengusaha migas kelas dunia yakni Mohammad Riza Chalid (MRC) sebagai buronan korupsi. Selama ini, selama reformasi tidak ada satu penguasapun yang berani menyentuhnya.
Setelah itu Presiden bergerak menangkap koruptor dengan nilai bisnis mencapai 1000 triliun rupiah setahun, yakni koruptor sawit. Hampir 20 triliun rupiah uang disita hanya dalam satu operasi. Sebanyak hampir 4 juta hektar lahan sawit ilegal disita oleh Presiden Prabowo dari pengsuaha kelas kakap yang sangat berpengaruh dan berkuasa di Indonesia.
Presiden melakukan semua itu hanya dengan mengerakkan satu lembaga penegak hukum yakni Kejaksaan Agung (Kejagung). Bagaimana dahsyatnya nanti setelah ini Presiden akan mengerahkan juga lembaga hukum lain termasuk KPK?. Bagaimana dahsyatnya nanti jika Presiden menyamar koruptor Nikel, batubara yang merupakan kekayaan alam Indonesia nomor satu di dunia? Maka kita akan melihat pemberantasan korupsi akan menjadi badai dan sekaligus tzunami bagi para koruptor kakap yang datang bersamaan.
Hal inilah yang disebut Presiden Prabowo nyerempet bahaya karena melakukan tindakan melawan koruptor yang kekayaannya melebihi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Koruptor sekelas ini dapat mengancam jantung kekuasaan, mengancam kekuasaan Presiden yang ada dipuncak. Bagaimana tidak? Jika 1% saja uang korupsi tersebut digunakan oleh seorang koruptor maka itu cukup untuk membayar semua pihak yang memiliki tujuan menggulingkan kekuasaan.
Satu persen dari korupsi 1000 triliun rupiah SDA adalah 10 triliun rupiah, atau 10 ribu miliar rupiah. Dengan uang sebesar itu para koruptor akan sangat leluasa menghancurkan nama pemerintah terutama melalui media sosial, bahkan melalui demontrasi massa.
Uang sebesar itu tentu saja dapat membuat semua media massa dan sosial tunduk pada kemauan koruptor dan dapat menjadikan medsos sebagai ajang balas dendam koruptor terhadap Pemerintah. Para Buser, Influencer dan pekerjaan sejenisnya bisa pesta pora karena uang turun bagaikan hujan dari langit. Namun kita berharap semoga koruptor tidak memiliki kesempatan menyiram uangnya. Mudah mudahan.













