MATARAM — Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, mendadak bergemuruh dalam keheningan yang syahdu pada Rabu malam (12/8/2026). Puluhan ribu warga dari berbagai pelosok Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai dari Pulau Lombok hingga ke ujung Pulau Sumbawa tumpah ruah memadati arena. Bukan untuk berdemonstrasi, melainkan merajut harmoni dalam Doa Kebangsaan Lintas Agama demi menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Diinisiasi oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) NTB, perhelatan akbar ini menjelma menjadi panggung nyata betapa indahnya kebinekaan ketika dirawat dengan ketulusan.

Suasana malam itu terasa kian istimewa dengan hadirnya jajaran tokoh nasional dan daerah. Tampak di panggung kehormatan Utusan Khusus Presiden Bidang Agama dan Sarana Prasarana Keagamaan KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, bersama para tuan guru dan pemuka dari berbagai lintas iman.
Kepala Kanwil Kemenag NTB, Zamroni Aziz, tak mampu menyembunyikan rasa harunya melihat antusiasme warga dan dukungan para pemangku kebijakan.
“Alhamdulillah, Doa Kebangsaan malam ini dapat terselenggara dengan menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai agama. Ini menunjukkan semangat bersama untuk menjaga kerukunan di NTB, sekaligus menjaga bangsa dan negara,” ujar Zamroni.
Ia menuturkan bahwa kehadiran para pejabat dan tokoh nasional di tengah padatnya agenda merupakan bentuk perhatian mendalam bagi bumi NTB sekaligus penguat pesan persatuan ke seluruh penjuru Nusantara.
Kekaguman mendalam diutarakan oleh Utusan Khusus Presiden, Gus Miftah. Menurutnya, pemandangan puluhan ribu umat dari keyakinan yang berbeda-beda melafalkan doa secara bergantian di bawah langit terbuka yang sama adalah pemandangan kebinekaan yang sangat langka dan menyentuh.
“Saya pikir ini adalah fenomena yang luar biasa. Di lapangan terbuka, para tokoh lintas agama bersama jemaat masing-masing dapat berkumpul, bersatu, dan melafalkan doa menurut keyakinan mereka, tetapi di tempat yang sama,” puji Gus Miftah.
Bagi Gus Miftah, kerukunan adalah fondasi utama pilar berbangsa. Ia bahkan bertekad membawa “Formula Harmoni Mataram” ini ke berbagai penjuru negeri.
“Harapan saya, ini bisa menjadi tradisi bangsa: bagaimana kita mampu duduk bersama tanpa memandang agama, melafalkan doa yang berbeda-beda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu mencintai Indonesia. Saya akan mencoba membawa konsep seperti ini ke daerah-daerah lain, insyaallah,” tegasnya penuh semangat.
Nada kebanggaan senada ditunjukkan oleh Wakil Ketua DPR RI asal Dapil NTB II (Pulau Lombok), Sari Yuliati. Ia menilai NTB telah membuktikan bahwa status mayoritas dan minoritas bukanlah sekat, melainkan kekayaan.
“Sebagai Wakil Ketua DPR RI dari NTB, saya bangga Provinsi NTB yang terdiri atas 10 kabupaten/kota ini mampu menjadi contoh nyata keberagaman. Meskipun umat Islam merupakan mayoritas, saudara-saudara kita dari kelompok minoritas tetap hidup berdampingan secara rukun,” ungkap Sari.
Sari menceritakan pengalaman personalnya saat berkunjung ke salah satu Sekolah Dasar di kawasan Cakranegara, Kota Mataram. Di sana, siswa beragama Hindu sebagai mayoritas hidup berdampingan dengan indah bersama siswa dari agama lain tanpa ada sekat diskriminasi, rasisme, maupun perundungan (bullying).
Kemeriahan dan kekhusyukan malam itu tidak hanya menyatukan jemari dalam doa, tetapi juga memantik sebuah gerakan baru. Di penghujung acara, bergulir wacana kuat dari masyarakat dan para tokoh agar Kota Mataram secara resmi dinobatkan sebagai “Kota Bineka”.
Usulan tersebut dinilai sangat relevan dengan realitas sosial warga Mataram yang telah lama mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Malam Doa Kebangsaan Lintas Agama ini pun menutup tirainya, meninggalkan pesan mendalam bagi Indonesia: dari NTB, persatuan bangsa terus dirawat dan didoakan. (AL-03)













