Menu

Mode Gelap
Perangkat Daerah Tuntaskan 100 Persen RUP, Percepat Pengadaan dan Serapan Anggaran Pemprov NTB Andalkan Dana BTT dan Tim Reaksi Cepat Tangani Kerusakan Jalan Pasca Banjir Pemprov NTB Segera Luncurkan Aplikasi Aduan Cepat Kekerasan Perempuan dan Anak Pemprov NTB Mulai Terapkan Work From Home Kencan Berujung Maut, Pria asal Lombok Timur Dikeroyok Hingga Meninggal di Homestay Suranadi Pemprov NTB Matangkan Strategi Graduasi Kemiskinan Ekstrem

Headline

Dialog dengan Ormas Islam NTB, Tokoh Islam Tiongkok : Kami Bisa Beribadah dengan Baik

badge-check


					Rombongan Muhibah Ormas Islam NTB dipimpin Ketua MUI Dr TGH Badrun  berdialog dengan Wakil Ketua Asosiasi Agama Islam Tiongkok, Jumat 18 September 2026. (Foto : Dok/Ist) Perbesar

Rombongan Muhibah Ormas Islam NTB dipimpin Ketua MUI Dr TGH Badrun berdialog dengan Wakil Ketua Asosiasi Agama Islam Tiongkok, Jumat 18 September 2026. (Foto : Dok/Ist)

BEIJING — Tokoh Islam di Tiongkok menepis ada perlakuan diskriminasi terhadap umat Islam dalam menjalankan ibadahnya.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Asosiasi Agama Islam Tiongkok, Jin Rubin saat menerima kunjungan dan berdialog dengan rombongan Muhibah Organisasi Masyarakat (Ormas) Keagamaan di NTB di kantornya Jumat (18/9/2026). Rombongan Muhibah Ormas Keagamaan NTB ini dipimpin Ketua MUI NTB Dr TGH Badrun. Selain itu, ikut serta dua pimpinan Pimpinan Wilayah (PW) NU NTB, dua pimpinan PW Muhammadiyah, dua orang pimpinan NW dan dua orang pimpinan NWDI serta dua orang pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) NTB.

Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) kata Jin Rubin, berkomitmen dalam mendukung kegiatan keagamaan dan menjaga keharmonisan antarumat beragama di negara ini. ” Kami bisa beribadah dengan baik. Jadi, kami di sini baik-baik saja, ” katanya.

Keharmonisan dalam kehidupan dan menjalankan ibadah keagamaan itu, sudah berlangsung sejak dulu kala. Pemerintah Tiongkok tambah Jin Rubin, memberikan pengakuan atas keberagaman dan keharmonisan terhadap pengembangan seluruh agama, baik Islam maupun agama lainnya. Berbeda dengan Indonesia yang secara resmi enam agama, Tiongkok menjamin hak perwakilan bagi setiap kelompok agama untuk saling bertukar pikiran dan hidup secara harmonis.

Dalam struktur pemerintahan Tiongkok, terdapat komite khusus di bawah Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) yang menaungi urusan etnis dan agama. Komite ini melibatkan berbagai tokoh masyarakat dan pemimpin agamat termasuk perwakilan umat Islam dalam membahas urusan negara serta memberikan masukan kepada pemerintah. Beberapa pimpinan organisasi keagamaan juga menjabat sebagai wakil ketua komite maupun anggota Kongres Rakyat Nasional (NPC). Jin Rubin sendiri saat ini tercatat sebagai Anggota Kongres Rakyat Nasional ke‑14.

Asosiasi Agama Islam Tiongkok sebagai satu-satunya organisasi Islam yang diakui negara, senantiasa mengajak umat Islam untuk mematuhi hukum dan undang-undang yang berlaku, mendukung sistem politik yang ada, serta menjadi warga negara yang baik demi menjaga kedamaian dan ketenteraman bersama.
” Kami senantiasa mengimbau dan mendidik umat Muslim lokal untuk memegang teguh prinsip mencintai negara sekaligus menjalankan ajaran agama (Hubbul Wathan minal Iman),” jelasnya didampingi sejumlah pengurus organisasi ini.

Dalam kesempatan itu, Jin Rubin lalu menjelaskan sejarah masuknya Islam ke Tiongkok. Dijelaskan, Islam masuk sekitar tahun 651 M pada masa Khalifah ketiga, Utsman bin Affan melalui utusan yang dikirim ke Tiongkok. Setelah itu, banyak pedagang Arab dan Persia datang melalui Jalur Sutra dan Jalur Rempah Maritim, menetap, menikah dengan warga lokal, dan menjadi cikal bakal umat Muslim Tiongkok.

Kini penganut agama Islam di Tiongkok mencapai sekitar 20 juta jiwa dan penganutnya tersebar di 10 suku minoritas Islam seperti Hui, Uighur, Kazakh, Tatar, Uzbek, Salar, Dongxiang dan lainnya. ” Islam disini selalu berpegang teguh pada arah lokalisasi dan berintegrasi dengan budaya Tiongkok,” tambahnya.

Asosiasi Agama Islam Tiongkok mencatat
terdapat sekitar 35 ribu masjid dan lebih dari 57 ribu imam di Tiongkok. Lalu terdapat 10 Institut Pendidikan Tinggi Islam di Tiongkok termasuk di Beijing, Urumqi-Xinjiang, dan Kunming untuk membina tokoh dan tenaga pengajar keagamaan. ” Masjid-masjid bersejarah dengan usia lebih dari 1.000 tahun masih terpelihara dengan baik, seperti Masjid Niujie di Beijing yang berusia sekitar 1.026 tahun, Masjid Huaisheng di Guangzhou, dan Masjid Agung Xian,” terangnya.

Lalu dalam rangka pembangunan tempat ibadan dan lembaga pendidikan ini,
Pemerintah Tiongkok kata Jin Rubin, memberikan dukungan berupa alokasi dana yang signifikan untuk fasilitas keagamaan seperti membiayai pemeliharaan dan perbaikan masjid-masjid bersejarah serta fasilitas ibadah. Selanjutnya pembangunan gedung perkantoran, perpustakaan, institut keagamaan, hingga asrama mahasiswa didukung penuh oleh anggaran pemerintah yang mencapai ratusan juta yuan.

Terkait hubungan umat Islam di Tiongkok dan Indonesia, menurut Jin Rubin umat Islam kedua negara punya akar sejarah dan hubungan baik sejak lama. Dikatakan, hubungan persahabatan antara umat Muslim Tiongkok dan Indonesia memiliki sejarah panjang yang berawal dari Jalur Sutra Maritim kuno. Lalu titik hubungan awal yang lebih modern mulai tahun 1955 saat Konfrensi Asia Afrika di Bandung.
Saat itu Wakil Ketua Asosiasi Agama Islam Tiongkok Imam Da Pusheng hadir sebagai penasihat urusan Islam mendampingi Perdana Menteri Zhou Enlai. ” Peristiwa ini meletakkan dasar bagi pertukaran resmi antar kedua negara,” jelasnya.

Hubungan ini terus berkembang. Asosiasi Agama Islam Tiongkok bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Delegasi organisasi Islam Indonesia seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah juga berulang kali berkunjung ke Tiongkok. Bahkan mantan Presiden Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga tercatat pernah beberapa kali berkunjung dan disambut di ruang pertemuan asosiasi tersebut.

Sementara itu, Ketua MUI NTB Dr TGH Badrun mengenalkan kehidupan beragama di NTB. Meski mayoritas penduduk beragama Islam dengan persentase mencapai 90,87 persen, hak-hak dan ritual ibadah umat beragama lainnya tetap terayomi dengan baik. “Semangat toleransi ini sejalan dengan falsafah bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, yang menjadikan perbedaan sebagai sarana menjalin komunikasi, persatuan, dan persaudaraan dalam membangun bangsa,” jelasnya.
Badrun lalu mendorong kerja sama internasional antara umat Islam di Tiongkok dan di NTB. Provinsi NTB memiliki perguruan tinggi Islam seperti UIN Mataram, sehingga bisa menjalin kerja sama dengan Institut Islam Tiongkok
dalam rangka pertukaran mahasiswa, dosen dan kolaborasi penelitian bersama.
“Hubungan baik antar-sesama ini dapat terus berlanjut di masa mendatang serta kami mengundang saudara-saudara di sini untuk berkunjung ke Nusa Tenggara Barat,” harap Badrun.

Sebelumnya, rombongan Muhibah Ormas Keagamaan NTB sempat berkunjung ke
Institut Islam Tiongkok (China Islamic Institute) yang masih berada di satu komplek dengan Asosiasi Agama Islam Tiongkok di Distrik Xicheng, Beijing. Rombongan diajak berkeliling di kampus ini dan melihat perkuliahan mahasiswa setempat.
Jumlah mahasiswanya saat ini sekitar 300 orang. Kurikulumnya meliputi Studi Al-Qur’an, Hadis, Fiqih, Bahasa Arab, dan Sejarah Islam. Lalu ada juga pendidikan umum dan kebangsaan serta penyelarasan budaya. (AL-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wagub NTB Tegaskan Perubahan APBD 2026 Diprioritaskan untuk Bencana Kekeringan dan Event MotoGP Mandalika

18 September 2026 - 23:00 WITA

Borong Penghargaan dari Kemendagri, NTB Sabet Juara 1 Program 3 Juta Rumah

18 September 2026 - 19:27 WITA

2 Kali Raih Kompolnas Award, Polresta Mataram Kembali Ukir Prestasi Nasional

18 September 2026 - 19:18 WITA

Sah! APBD Perubahan NTB 2026 Rp6 Triliun Disetujui DPRD, Defisit Rp369 Miliar Ditutup SILPA

18 September 2026 - 19:08 WITA

Gandeng Ikatan Notaris Indonesia, Pemprov NTB Jamin Kemudahan Berusaha dan Kepastian Hukum

18 September 2026 - 08:16 WITA

Trending di Headline