Menu

Mode Gelap
Perangkat Daerah Tuntaskan 100 Persen RUP, Percepat Pengadaan dan Serapan Anggaran Pemprov NTB Andalkan Dana BTT dan Tim Reaksi Cepat Tangani Kerusakan Jalan Pasca Banjir Pemprov NTB Segera Luncurkan Aplikasi Aduan Cepat Kekerasan Perempuan dan Anak Pemprov NTB Mulai Terapkan Work From Home Kencan Berujung Maut, Pria asal Lombok Timur Dikeroyok Hingga Meninggal di Homestay Suranadi Pemprov NTB Matangkan Strategi Graduasi Kemiskinan Ekstrem

Headline

Keberadaan Warung di Suranadi Antara Stigma dan Sumber Penghidupan

badge-check


					Keberadaan Warung di Suranadi Antara Stigma dan Sumber Penghidupan Perbesar

LOMBOK BARAT — Keberadaan warung minuman tradisional jenis tuak di kawasan pariwisata Suranadi, Kecamatan Narmada, belakangan menjadi sorotan sejumlah pihak. Warung-warung tersebut kerap dikaitkan dengan meningkatnya tindak kejahatan di wilayah tersebut. Namun, di balik kontroversi yang ada, keberadaan warung tuak ternyata menjadi sandaran ekonomi bagi lebih dari seribu keluarga.

Ketua Asosiasi Warung, I Gede Ngurah, menyebut bahwa setidaknya ada sekitar 170 keluarga yang berprofesi sebagai pedagang keliling dan menggantungkan hidup mereka pada operasional warung-warung di Suranadi. Tak hanya para penjual keliling, ratusan karyawan, tukang parkir, hingga petani pohon enau juga mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan warung-warung ini.

Menghidupi Ribuan Keluarga

Salah satu pedagang keliling, Ayat, warga Suranadi Utara, mengaku telah berjualan di sekitar warung-warung Suranadi selama enam tahun. Perempuan berusia 52 tahun ini menjajakan makanan ringan serta buah-buahan kepada para tamu warung.

“Saya bisa menambah uang biaya kelima anak saya,” ungkapnya. Suaminya pun bekerja di sektor yang sama, berjualan di warung-warung sekitar Suranadi untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka.

Ayat biasanya mulai berjualan dari pukul 13.00 hingga 23.00 malam. Penghasilannya bervariasi, berkisar antara Rp50.000 hingga Rp200.000 per hari. “Kalau lagi ramai, bisa lebih. Tapi kalau sepi, ya hanya cukup untuk bayar ojek,” tuturnya.

Diluar, Ayat., ratusan pedagang lain di Suranadi juga mengandalkan keberadaan warung-warung tersebut untuk memenuhi kebutuhan makan dan pendidikan anak-anak mereka.

Peran Ekonomi dan Harapan Pembinaan Positif

Menanggapi stigma yang masih melekat pada warung-warung di Suranadi, Ngurah menegaskan bahwa keberadaan mereka telah menjadi roda ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Banyak keluarga yang bergantung hidup dari warung-warung ini,” ujarnya.

Ia berharap adanya pendekatan positif dari pihak terkait guna membina para pelaku usaha tanpa harus menghilangkan sumber penghidupan mereka. Dengan pembinaan yang baik, warung-warung di Suranadi bisa tetap beroperasi secara tertib dan memberikan manfaat bagi ekonomi lokal tanpa harus dianggap sebagai sumber masalah sosial. (AL-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemprov NTB dan BPS Dorong Pelaku Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

25 Mei 2026 - 21:42 WITA

Bank NTB Syariah Perkuat Literasi Keuangan Syariah dan Dorong Peningkatan Inklusi Keuangan di Kota Bima

25 Mei 2026 - 16:40 WITA

Bank NTB Syariah Tegaskan Layanan Pembiayaan Dilaksanakan Sesuai Ketentuan yang Berlaku

25 Mei 2026 - 15:24 WITA

Iklim Investasi Positif, The Mandalika Percepat Pengembangan Kawasan dan Pariwisata

25 Mei 2026 - 08:19 WITA

Rumah Adat Bayan yang Ludes Terbakar Dibangun Ulang Pemprov dan Kemenbud

24 Mei 2026 - 21:22 WITA

Trending di Headline