MATARAM – Langkah Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, yang secara terbuka melemparkan dukungan kepada Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dalam bursa calon Ketua KONI NTB periode 2026–2030 menuai kritik pedas. Manuver tersebut dinilai menodai independensi organisasi dan mencederai nilai-nilai kepatutan dalam olahraga.
Sorotan tajam ini datang langsung dari Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Magister Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA), Ainun Samidah menilai pernyataan pimpinan tertinggi KONI tersebut sebagai bentuk keberpihakan yang mengangkangi proses demokrasi Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI NTB yang tengah berjalan.

“Ini bukan sekadar dukungan biasa, melainkan bentuk intervensi terselubung yang menabrak koridor aturan AD/ART KONI,” tegas Ainun dalam keterangan resminya, Sabtu (8/8/2026).
Ainun tidak menampik bahwa KONI Pusat mengemban amanat besar untuk melakukan pembinaan dan pengawasan, termasuk mengevaluasi setiap pelanggaran aturan organisasi. Namun, fungsi pengayom tersebut runtuh ketika pimpinan pusat justru bersolek menjadi ‘tim sukses’ salah satu kandidat saat tahapan pendaftaran dan pengambilan formulir masih dibuka.
“KONI Pusat seharusnya berdiri tegak sebagai wasit yang netral dan pengawas yang adil, bukan ikut bermain di lapangan. Ketika Ketua KONI Pusat menyerukan agar ‘semua pihak mendukung’ gubernur, itu adalah intervensi moral yang sangat tidak etis. Sikap ini berpotensi merusak independensi para pemilik suara di Musorprov,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa arena olahraga harus steril dari benturan kepentingan politik praktis demi menjaga integritas pembinaan atlet di daerah. Publik kini menanti apakah Musorprov KONI NTB mampu bertahan dari tekanan pengaruh pusat atau justru tunduk pada peta kekuatan politik sesaat. (AL-03)













