MATARAM — Muhamad Yanuar Fikri, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang saat ini berada di Myawaddy, Myanmar, dilaporkan dalam kondisi sehat usai sempat hilang kontak dengan pihak keluarga. Meski demikian, Yanuar kini dihadapkan pada situasi pelik karena kehabisan uang pegangan di tengah ketatnya penjagaan otoritas setempat dan bayang-bayang konflik keamanan di kawasan perbatasan.
Berdasarkan laporan resmi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB per Senin (28/9/2026), Yanuar saat ini berada dalam penanganan pihak kepolisian setempat di Myawaddy sembari menunggu proses administrasi dan penjemputan menuju Yangon.

Kepanikan keluarga khususnya sang ibu terjadi setelah Yanuar sulit dihubungi selama beberapa waktu. Usut punya usut, kendala komunikasi tersebut bukan disebabkan oleh hal buruk, melainkan lantaran Yanuar tidak memiliki paket data internet dan hanya bergantung pada akses Wi-Fi terbatas di lokasi.
“Saat ini yang bersangkutan sudah bisa terhubung kembali dan mengonfirmasi dalam keadaan sehat. Pihak keluarga di NTB juga telah diberikan penjelasan resmi mengenai kondisi terkini,” ujar Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Disnakertrans NTB, Pradiptha Himawan Putra, S.H., M.H., dalam keterangannya.
Meski fisik terbilang sehat, Yanuar menghadapi kesulitan ekonomi yang cukup mendesak. Ia sama sekali tidak memegang uang tunai untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari seperti makan dan minum. Kawasan Myawaddy sendiri menggunakan dua mata uang dalam transaksi harian, yakni Kyat Myanmar dan Baht Thailand, mengingat lokasinya yang berada persis di perbatasan Thailand.
Selain kendala finansial, paspor milik Yanuar saat ini diamankan oleh Kepolisian Myawaddy sebagai bagian dari prosedur pengawasan dan koordinasi dengan pihak Imigrasi Myanmar selama proses pemeriksaan berlangsung.
Proses pemindahan Yanuar dari Myawaddy ke kota utama, Yangon, tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. KBRI Yangon mencatat bahwa kawasan Myawaddy memiliki kompleksitas keamanan yang tinggi karena maraknya aktivitas ilegal serta keberadaan berbagai kelompok bersenjata.
Oleh karena itu, KBRI Yangon bersama Disnakertrans NTB terus mengupayakan jalur evakuasi yang aman dan legal bagi Yanuar.
“Pemerintah Provinsi NTB terus berkoordinasi intensif dengan KBRI Yangon. Langkah-langkah penanganan mencakup kepastian kebutuhan dasar, status dokumen perjalanan, pengurusan exit permit atau deportasi resmi, hingga rencana skenario kepulangan Yanuar kembali ke Tanah Air,” tambah Pradiptha.
Saat ini, Pemprov NTB terus memantau setiap perkembangan di lapangan dan mengimbau pihak keluarga untuk tetap tenang sembari menunggu proses diplomasi dan pemindahan dari otoritas berwenang berjalan lancar. (AL-03)













