Menu

Mode Gelap
Perangkat Daerah Tuntaskan 100 Persen RUP, Percepat Pengadaan dan Serapan Anggaran Pemprov NTB Andalkan Dana BTT dan Tim Reaksi Cepat Tangani Kerusakan Jalan Pasca Banjir Pemprov NTB Segera Luncurkan Aplikasi Aduan Cepat Kekerasan Perempuan dan Anak Pemprov NTB Mulai Terapkan Work From Home Kencan Berujung Maut, Pria asal Lombok Timur Dikeroyok Hingga Meninggal di Homestay Suranadi Pemprov NTB Matangkan Strategi Graduasi Kemiskinan Ekstrem

Headline

Awal Puasa Kemungkinan Berbeda, Lebaran Diprediksi Sama

badge-check


					Awal Puasa Kemungkinan Berbeda, Lebaran Diprediksi Sama Perbesar

MATARAM — Awal puasa Ramadan tahun 1446 H/2025 potensi berbeda tetapi lebaran Idul Fitri kemungkinan akan bersamaan.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa pada Sabtu, 1 Maret 2025, berdasarkan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal.

Kalender NU 2025 Masehi sendiri menyebutkan 1 Ramadan 1446 jatuh pada Sabtu (1/3/2025). Namun, NU selalu disertai keterangan bahwa putusan awal bulan hijriyah menunggu hasil ru’yat. Jika hilal gagal terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan 30 hari, jadi mulai puasa pada Minggu (2/3/2025).

Sementara pemerintah baru akan menggelar Sidang Isbat penentuan awal Ramadan 1446 H pada Jumat (28/2) petang ini.
Namun menurut aspek imkanur rukyat atau mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal berdasarkan kriteria Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) di Indonesia pada Sabtu ( 28/2/2025) hanya bisa terpenuhi di Aceh, sedangkan di Jawa Timur apalagi di daerah timurnya lagi lebih sulit untuk imkan melihat bulan. Pada Akhir Sya’ ban, 28 Februari tinggi hilal di Jakarta sudah 4 derajat, elongasi (sudut antara titik pusat bulan dan matahari saat terbenam 6,02 derajat. Kriteria MABIMS tinggi 3 dan elongasi 6,4 derajat. Sedangkan di Jawa Timur tinggi hilal 3, elongasi 5,9 derajat (elongasinya belum masuk kriteria MABIM).

“Jika ada hasil rukyah yang “mu’tabar” di zona Aceh, maka awal puasa Sabtu. Kalau tidak ada hasil rukyah, maka istikmal Sya’ban,”jelas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah Cholil Nafis
di akun Twitter pribadinya @cholilnafis, Jumat (28/2/2025).

Cholil menjelaskan jika awal puasa berbeda, maka lebaran kemungkinan sama.
Pada akhir Ramadan saat ijtimak tanggal 27 Mei 2025 pukul 10. 02 WiB, tinggi hilal saat Maghrib di Jakarta 1° 28′ dan elongasi 6,5 derajat dan sudah masuk kriteria sesuai kesepakatan MABIMS. ”
Awal Syawal In syaa’ Allah tidak ada perbedaan antar ormas,” jelasnya.

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaludin juga telah memperkirakan pada ketinggian hilal penentu awal Ramadhan belum memenuhi kriteria pemerintah pada 28 Februari.

Thomas menjelaskan, posisi Bulan saat magrib pada 28 Februari 2025 di Banda Aceh berada di ketinggian 4,5 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Sementara di Surabaya, ketinggian Bulan 3,7 derajat dan elongasi 5,8 derajat.

Ia menambahkan, kemungkinan rukyat hilal gagal, sehingga 1 Ramadhan 1446 H berpotensi jatuh pada 2 Maret 2025. Kendati begitu, ia mengatakan agar semua pihak menunggu keputusan hasil Sidang Isbat yang akan digelar pemerintah. (AL-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemprov NTB Kembangkan Seaplane untuk Konektivitas Antar Destinasi

15 April 2026 - 14:00 WIB

NTB Kejar Target Satu Digit Kemiskinan

14 April 2026 - 17:21 WIB

Pengurus MUI NTB Dikukuhkan, Gubernur Iqbal Soroti Pelecehan Seksual dan Kemiskinan Ekstrem

12 April 2026 - 14:45 WIB

Bupati Bambang Firdaus Paparkan Deretan Prestasi dan Arah Pembangunan di HUT ke-211 Dompu

12 April 2026 - 11:51 WIB

Pemprov NTB dan Kementerian ATR/BPN Bahas Sinkronisasi Tata Ruang, Pengamanan Aset Daerah, dan Pengendalian Lahan

11 April 2026 - 11:46 WIB

Trending di Headline