Oleh : Lalu Wisnu Pradipta
Pembangunan proyek kereta gantung di kawasan Gunung Rinjani kembali memunculkan perdebatan panjang di tengah masyarakat Nusa Tenggara Barat. Di satu sisi, proyek ini dipandang sebagai simbol modernisasi pariwisata dan percepatan investasi daerah. Namun di sisi lain, banyak pihak menilai bahwa pembangunan tersebut berpotensi mengancam keseimbangan ekologis dan identitas konservasi Gunung Rinjani sebagai kawasan lindung nasional.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi sekadar soal menghadirkan infrastruktur, melainkan tentang bagaimana menentukan arah masa depan lingkungan dan masyarakat lokal dalam jangka panjang.
Secara ekonomi, proyek kereta gantung memang memiliki potensi signifikan. Infrastruktur wisata berskala besar dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperluas pasar UMKM lokal, dan memperkuat posisi NTB dalam peta pariwisata internasional. Negara-negara seperti Vietnam dan Malaysia berhasil menjadikan kereta gantung sebagai ikon wisata yang mampu menarik jutaan pengunjung setiap tahun. Dalam konteks ini, pemerintah daerah tentu melihat peluang besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan utara Lombok.
Selain itu, proyek ini sering dikaitkan dengan isu aksesibilitas wisata. Selama ini, panorama Rinjani hanya dapat dinikmati secara penuh oleh wisatawan yang memiliki kemampuan fisik mendaki. Kehadiran kereta gantung dianggap mampu membuka akses bagi lansia, anak-anak, dan sebagian penyandang disabilitas untuk menikmati lanskap pegunungan tanpa harus melakukan pendakian ekstrem. Dari perspektif pembangunan inklusif, argumentasi ini terlihat relevan.
Namun demikian, pendekatan pembangunan berbasis eksploitasi kawasan pegunungan menyimpan risiko ekologis yang sangat serius. Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan ekosistem sensitif yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air utama bagi Pulau Lombok. Kerusakan vegetasi hutan di kawasan ini dapat memicu degradasi sumber mata air, erosi tanah, dan memperbesar risiko longsor maupun banjir di wilayah hilir.
Dalam perspektif ilmu lingkungan, pembangunan infrastruktur besar di kawasan pegunungan vulkanik aktif juga meningkatkan tekanan ekologis akibat pembukaan lahan, mobilisasi alat berat, pembangunan jalur akses, dan peningkatan aktivitas wisata massal. Pengalaman di berbagai kawasan wisata dunia menunjukkan bahwa over-tourism sering kali berujung pada penurunan kualitas lingkungan, penumpukan sampah, dan hilangnya nilai konservasi.
Selain persoalan ekologis, dimensi sosial budaya juga tidak dapat diabaikan. Bagi masyarakat Sasak, Gunung Rinjani bukan sekadar objek wisata, tetapi memiliki nilai spiritual dan historis yang kuat. Komersialisasi berlebihan dikhawatirkan mengubah ruang sakral menjadi sekadar komoditas ekonomi. Konflik kepentingan antara investor, pemerintah, masyarakat adat, dan kelompok konservasi berpotensi semakin tajam apabila proses pembangunan tidak dilakukan secara partisipatif dan transparan.
Di sisi lain, pembatalan proyek juga bukan tanpa konsekuensi. NTB berisiko kehilangan peluang investasi besar yang selama ini diharapkan dapat mendorong percepatan pembangunan daerah. Pembatalan proyek tanpa argumentasi kebijakan yang kuat dapat menimbulkan persepsi ketidakpastian hukum dan menurunkan kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan daerah.
Karena itu, perdebatan mengenai kereta gantung Rinjani seharusnya tidak berhenti pada pilihan “lanjut atau batal.” Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana merumuskan model pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, adil, dan berbasis konservasi. Pembangunan wisata modern seharusnya tidak mengorbankan fungsi ekologis kawasan yang menjadi penopang kehidupan masyarakat Pulau Lombok.
Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada kajian ilmiah independen, analisis risiko bencana, daya dukung lingkungan, serta partisipasi masyarakat lokal dan komunitas adat. Prinsip pembangunan berkelanjutan harus menjadi fondasi utama agar Rinjani tidak hanya menjadi sumber keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi tetap lestari sebagai warisan ekologis dan budaya bagi generasi mendatang.
Pada akhirnya, masa depan Rinjani akan menjadi cerminan arah pembangunan NTB sendiri: apakah lebih memilih pembangunan cepat berbasis eksploitasi, atau pembangunan berkelanjutan yang menjaga keseimbangan antara ekonomi, manusia, dan alam.













