Menu

Mode Gelap
Perangkat Daerah Tuntaskan 100 Persen RUP, Percepat Pengadaan dan Serapan Anggaran Pemprov NTB Andalkan Dana BTT dan Tim Reaksi Cepat Tangani Kerusakan Jalan Pasca Banjir Pemprov NTB Segera Luncurkan Aplikasi Aduan Cepat Kekerasan Perempuan dan Anak Pemprov NTB Mulai Terapkan Work From Home Kencan Berujung Maut, Pria asal Lombok Timur Dikeroyok Hingga Meninggal di Homestay Suranadi Pemprov NTB Matangkan Strategi Graduasi Kemiskinan Ekstrem

OPINI

Mengakhiri Kemiskinan NTB dari Desa

badge-check


					Mengakhiri Kemiskinan NTB dari Desa Perbesar

Oleh: Iwan Harsono (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram) 

Program Desa Berdaya yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bukan sekadar program bantuan sosial biasa, tetapi merupakan strategi struktural untuk mengatasi kemiskinan ekstrem secara berkelanjutan. Melalui pendekatan intervensi terpadu yang menggabungkan perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, pendampingan, dan inklusi keuangan, strategi ini menempatkan desa sebagai unit pembangunan utama dalam menurunkan kemiskinan di akar rumput Pertimbangan kebijakan ini lahir dari kondisi nyata di NTB. Laporan parkembangan indikator kesejahteraan menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di NTB masih signifikan: pada 2024 mencapai 11,91% dari total penduduk, dengan tantangan kemiskinan ekstrem yang memerlukan pendekatan lebih dari sekedar bantuan sementara

Mengapa Harus Desa Berdaya?

1. Kemiskinan merupakan masalah struktural yang memerlukan strategi berlapis. Fokus program terletak pada graduasi keluarga miskin dari ketergantungan menjadi kemandirian ekonomi melalui pendampingan dan penguatan kapasitas, bukan hanya pemberian bantuan langsung. Ini sejalan dengan praktik graduation approach yang telah diakui secara global sebagai metode efektif dalam mengeluarkan rumah tangga dari kemiskinan ekstrem, dengan tingkat keberhasilan antara 75%-95% di berbagai negara.

2. Intervensi yang terukur dan menyeluruh. Pemprov NTB telah menyiapkan indikator kemiskinan sebanyak 39 39 variabel untu untuk memastikan intervensi yang tepat sasaran dan terukur. Pendamping lokal akan bekerja langsung dengan sekitar 50 KK pada tahap awal setiap desa, memperkuat penguasaan data dan respons program.

3. Fokus pada desa-desa miskin ekstrem. Strategi ini diarahkan pada desa-desa dengan konsentrasi kemiskinan paling tinggi, misalnya 106 desa miskin ekstrem ditargetkan keluar dari kemiskinan melalui program ini dalam jangka menengah (sebelum tahun 2029).

Argumen Pendukung Strategi Struktural

Desa Berdaya memadukan berbagai pilar pembangunan: sosial, ekonomi, dan digitalisasi desa untuk memperkuat transparansi dan efektivitas Intervensi Artinya, desa bukan hanya mendapatkan dana, tetapi juga kapasitas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi berbasis data digital. sehingga potensi desa dapat dimaksimalkan..

Pendekatan ini tak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga kemampuan desa dalam mengelola sumberdaya lokal seperti desa mandiri pangan dan potensi pariwisata, yang merupakan kunci diversifikasi pendapatan masyarakat pedesaan.

Model ini juga dinilai selaras dengan inisiatif dunia, seperti metode graduasi yang diusung BRAC International sebuah bukti bahwa strategi yang dipilih bukan sekadar moda lokal tetapi telah diuji di berbagai konteks pembangunan global.

Potensi dan Tantangan

Potensi:

Program ini dapat meningkatkan ketahanan ekonomi desa melalui pengembangan usaha produktif, akses ke layanan keuangan inklusif, dan dukungan pelatihan keterampilan.

Penguatan kelembagaan desa mendukung ownership lokal terhadap pembangunan berkelanjutan.

Tantangan:

Keberhasilan tergantung pada quality of coaching integrasi lintas sektor, dan kesinambungan pembiayaan di luar APBD.

Ketepatan pengukuran dan validitas data desa masih menjadi pekenaan rumah dalam menjamin efektivitas kebijakan.

Kesimpulan

Desa Berdaya di NTB lebih dari sekadar paket program: ia merupakan pendekatan. struktural dan sistematis untuk mengatasi kemiskinan ekstrem melalui pemberdayaan komunitas, pendampingan berbasis data, dan pembangunan. ekonomi lokal. Dengan target yang jelas, indikator yang terukur, serta dukungan metodologis dari praktik global yang terbukti, program ini berpotensi menjadi model pengentasan kemiskinan yang berkelanjutan, inklusif, dan 1 berbasis berbasis desa. Namun, keberhasilan jangka panjangnya tergantung pada implementasi di tingkat lokal, komitmen multi-stakeholder, dan adaptasi responsif terhadap dinamika nyata di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dirlogis NTB Kritik Sari Yuliati Jangan Hanya Bagi KIP dan Bedah Rumah

23 Mei 2026 - 14:24 WITA

Menggugat Angka Pertumbuhan: Menakar Kemakmuran Rakyat di Balik Kemilau Ekonomi Regional

22 Mei 2026 - 15:30 WITA

Kebijakan Ironi dan Keliru : Raperda NTB Tentang Sumbangan Dana Pendidikan (untuk Tingkat SMA/SMK/SLB)

19 Mei 2026 - 16:52 WITA

Menatap Kebiri Politik di Tanah Sasak: Ketika Golkar NTB Menjadi “Harta Warisan” Satu Orang

19 Mei 2026 - 16:32 WITA

Bahlil Tidak Disukai Istana dan Sari Alternatif, Benarkah

19 Mei 2026 - 06:31 WITA

Trending di OPINI