Oleh: M.Ali Akbar (Lombok Heritage and Science Society)
AMPENAN – Siapa sangka, sebuah kota pelabuhan tua di pesisir barat Pulau Lombok pernah melahirkan seorang tokoh intelektual raksasa yang namanya tercatat emas dalam panggung diplomasi global? Sejarah dunia kini dipaksa membuka kembali lembaran arsip internasional yang mencengangkan. Soeleiman Hoesin Tajibnapis, putra asli Lombok kelahiran Ampenan pada 15 Juli 1918, adalah bukti nyata bagaimana anak seorang saudagar lokal mampu mendobrak batasan kolonial, menembus elite hukum Eropa, hingga berdiri tegak menghantam klaim sepihak Belanda di mimbar tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)!

Lahir dari pasangan Hadji Hoesin Tajibnapis dan Entjik Sapiah, Soeleiman mewakili fajar baru generasi penerus keluarga saudagar Tajibnapis di Ampenan. Di era ketika perdagangan menjadi urat nadi utama keluarganya, ia memilih jalur pengabdian yang sama sekali berbeda: jalur hukum dan meja diplomasi.
Langkah besar itu dimulai dari Batavia. Pada tahun 1939, dalam pengumuman kelulusan resmi yang disiarkan oleh surat kabar legendaris Bataviaasch Nieuwsblad edisi malam tertanggal 15 Mei 1939, nama Soeleiman bin Hadji Hoesin bin Tajibnapis tercatat lulus ujian kandidat (Candidaatsexamen) bagian kedua di Sekolah Tinggi Hukum (RechtsHoogeschool). Hebatnya, ia lulus seangkatan dengan tokoh-tokoh hukum legendaris Indonesia lainnya, termasuk sang pejuang HAM masa tempo dulu, Jap Thiam Hien.
Ketajaman berpikirnya membawa Soeleiman terbang ke Eropa ke pusat kekuasaan kolonial. Di tengah kecamuk Perang Dunia II yang melanda benua tersebut, ia membuktikan keunggulan intelektual bumiputera dengan sukses meraih gelar Doktor Hukum (Juris Doctor / J.D.) dari universitas prestisius, Universitas Utrecht, Belanda pada tahun 1943.
Tahun 1945 menjadi puncak takdir hidup Soeleiman, baik dalam urusan keluarga maupun tanah air. Hanya berselang satu bulan setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia di Jakarta, Soeleiman meneguhkan komitmen hidupnya di Eropa. Tepat pada tanggal 18 September 1945 di Utrecht, ia secara resmi menikahi seorang perempuan belahan jiwanya asal Amsterdam, Catherina Maria Borg. Dari pernikahan yang kokoh di tengah badai transisi global ini, mereka dikaruniai seorang putra bernama Willem.
Usai perang, reputasi profesionalnya di Belanda makin diakui. Antara tahun 1946 hingga 1949, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Bagian Administrasi di Institute of Alien Property di Utrecht serta menjadi editor publikasi berkala De Beugbatam di Amsterdam. Namun, jiwanya tetap memanggil untuk mengabdi pada Republik yang masih seumur jagung.
Saat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari agresi militer, perjuangan dipindahkan ke meja perundingan. Pada tahun 1949, Dr. Soeleiman Tajibnapis memegang posisi vital sebagai Sekretaris Delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Dengan kepiawaian diplomasinya yang dingin dan kalkulatif, ia ikut merumuskan dokumen-dokumen hukum yang akhirnya memaksa Kerajaan Belanda bertekuk lutut dan menyerahkan kedaulatan penuh kepada Republik Indonesia.
Pasca-KMB, kariernya melesat bak meteor ke kancah dunia. Ketika Indonesia resmi diterima menjadi anggota PBB yang ke-60, pemerintah pusat langsung mengirim Soeleiman ke New York. Pada tahun 1950, ia resmi bertugas sebagai Sekretaris Pertama sekaligus perwakilan di bawah Misi Pengamat Permanen Indonesia untuk PBB. Bersama keluarganya, sang putra Lombok ini menetap di kawasan New York sambil menjalankan tugas-tugas kenegaraan yang super rahasia dan krusial.
Sikap nasionalisme Soeleiman Tajibnapis benar-benar meledak dan menjadi sorotan utama pers Eropa pada September 1952. Surat kabar harian utama Belanda, Het Parool edisi Rotterdam dan Nieuw Utrechtsch Dagblad tertanggal 12 September 1952, secara dramatis memuat berita utama mengenai ketegasan sang diplomat di Markas Besar PBB, New York.
Dihadapan Komisi PBB untuk Wilayah-Wilayah Tanpa Pemerintahan Sendiri (Non-Self-Governing Territories), Soeleiman dengan berani menentang laporan sepihak Belanda mengenai administrasi wilayah Nugini Barat (Papua Barat). Berita tersebut melansir bahwa perwakilan Indonesia ini mengancam akan segera menjatuhkan sebuah “Pernyataan yang Keras” (Krachtige Verklaring) dalam tempo sepuluh hari guna mematahkan klaim kolonial Belanda dan menegaskan bahwa Papua Barat adalah bagian mutlak dari Republik Indonesia!
Dari pesisir pantai Pelabuhan Ampenan yang riuh dengan kapal dagang, menuju ruang-ruang sidang RHS Batavia, hingga akhirnya mengguncang gedung PBB di New York; kisah hidup Mr. Dr. Soeleiman Hoesin Tajibnapis adalah roman perjuangan yang epik. Ia bukan sekadar saksi sejarah, melainkan sang pionir, Diplomat Pertama dari Ampenan yang membuktikan kepada dunia bahwa pemuda dari Lombok mampu berdiri sama tinggi dan menggentarkan negara-negara adidaya di panggung internasional!













