Oleh : Naspol NTB

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis daftar 10 provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Triwulan I-2026. Angka-angka dua digit mencuat, melahirkan optimisme di tingkat makro. Namun, sebuah pertanyaan mendasar yang wajib kita ajukan sebagai refleksi kritis adalah. Apakah pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut sepenuhnya menggambarkan kemakmuran rakyat di akar rumput?
Mari kita dalami lebih jauh
Tujuan hakiki dari pembangunan ekonomi sejatinya bukanlah sekadar berburu angka pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi hanyalah alat (tools), sementara tujuan akhir yang sesungguhnya adalah pencapaian kemakmuran rakyat yang berkeadilan. Ketika kita berbicara tentang kemakmuran, ekonomi tidak boleh hanya dibaca sebagai deretan angka statistik yang dingin. Kita harus membedah isi di dalamnya, sektor mana yang paling dominan mendorong pertumbuhan tersebut?
Tambang vs Pertanian & Pariwisata: Anatomi Sektor Ekonomi
Sektor pertambangan memang memiliki volume kapital yang raksasa. Sektor ekstraktif ini sangat mudah memicu lonjakan angka pertumbuhan ekonomi secara instan di atas kertas. Namun, realitasnya, dampak sektor pertambangan terhadap peningkatan daya beli masyarakat luas tergolong sangat rendah. Hal ini terjadi karena perputaran uang di sektor tambang bersifat eksklusif hanya berputar di tangan segelintir korporasi, elite modal, dan terbatas di kawasan industri tertentu saja.
Kondisi ini berkebalikan dengan sektor pertanian dan pariwisata. Dua sektor ini memang tidak bisa menciptakan lompatan pertumbuhan ekonomi secara instan. Membangun pariwisata dan pertanian membutuhkan kerja keras yang panjang, konsisten, dan sistematis. Namun, jika kita bicara soal kemakmuran, dampak kedua sektor ini jauh lebih masif dan merata. Sektor pertanian dan pariwisata adalah sektor padat karya yang paling banyak melibatkan masyarakat lokal secara langsung, mulai dari petani, pemandu wisata, pelaku UMKM, hingga penyedia akomodasi.
Khusus untuk sektor pertanian, pertumbuhan yang sehat secara langsung akan melahirkan kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP). Indikator NTP inilah yang menjadi cerminan paling jujur dan nyata dari tingkat kesejahteraan serta daya beli masyarakat Indonesia pada umumnya.
Mengingat pentingnya kualitas pertumbuhan tersebut, mari kita bedah fundamental ekonomi 3 provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia Timur (NTB, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah) melalui lensa keberlanjutan dan kemakmuran rakyat:
Analisis Fundamental Ekonomi 3 Provinsi Berdasarkan Kualitas Sektor (2024–2026)
1. Maluku Utara: Terjebak dalam Pertumbuhan Ilusi Tambang
Meskipun mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi pada Triwulan I-2025 (+34,58%) dan tetap kuat di Triwulan I-2026 (+19,64%), fundamental ekonomi Maluku Utara masih sangat rapuh.
Ekonomi Maluku Utara saat ini sepenuhnya tergantung pada sektor tambang dan hilirisasi nikel, sementara sumbangan sektor padat karya lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi masih sangat rendah. Kondisi ini berbahaya bagi masa depan daerah. Untuk menciptakan ekonomi yang berkelanjutan dan benar-benar memakmurkan rakyatnya, Maluku Utara harus bekerja ekstra keras melakukan diversifikasi agar tidak terjebak dalam kutukan sumber daya alam.
2. Nusa Tenggara Barat (NTB): Menuju Arah Ekonomi Modern yang Inklusif
Peta jalan ekonomi NTB menunjukkan lompatan kualitas yang paling menjanjikan. Setelah sempat mengalami kontraksi di Triwulan I-2025 (-1,47%), ekonomi NTB melesat ke angka +13,64% di Triwulan I-2026.
Kabar baiknya, NTB sudah menunjukkan arah yang jelas menuju struktur ekonomi modern yang tidak lagi bergantung semata pada komoditas mentah tambang. Meski porsi sektor pertambangan secara volume masih tinggi, fundamental ekonomi NTB jauh lebih sehat karena sektor pertanian dan pariwisata telah berhasil tumbuh impresif mencapai dua digit (Pertanian tumbuh 10,31% dan Pariwisata/Akomodasi tumbuh 10,84% secara *y-on-y*). Keberhasilan dua sektor padat karya ini ikut menopang pertumbuhan sekaligus menjadi jangkar kemakmuran yang menyentuh langsung masyarakat luas.
3. Sulawesi Tengah: Stabilitas Tambang dengan Sektor Pangan yang Tertinggal
Sulawesi Tengah memperlihatkan performa pertumbuhan makro yang stabil, bergerak di angka +8,69% (Triwulan I-2025) dan terjaga di +8,32% (Triwulan I-2026).
Secara sektoral, ekonomi Sulawesi Tengah masih didominasi dan tergantung pada sektor tambang/smelter nikel. Kabar positifnya, sektor pariwisata di wilayah ini perlahan sudah mulai merangkak naik dan ikut berkontribusi menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Meskipun demikian, Sulawesi Tengah memiliki pekerjaan rumah yang besar pada sektor pertanian; sumbangan sektor pertanian terpantau masih rendah dan jalan di tempat, yang berarti kesejahteraan basis massa petani di daerah ini masih memerlukan perhatian serius dari pengambil kebijakan.
Memilih Arah Pembangunan
Data triwulan pertama tahun 2026 menegaskan satu hal, NTB memimpin dalam hal transformasi kualitas ekonomi. NTB membuktikan bahwa pertumbuhan tinggi bisa dicapai beriringan dengan penguatan sektor riil rakyat (pertanian dan pariwisata). Sebaliknya, Maluku Utara dan Sulawesi Tengah menjadi alarm pengingat bahwa angka pertumbuhan tinggi yang ditopang penuh oleh sektor tambang terancam menjadi “pertumbuhan tanpa kemakmuran” jika tidak segera diikuti oleh diversifikasi ke sektor-sektor yang menyentuh hidup orang banyak.
Pembangunan sejati harus diletakkan kembali pada khitahnya: menyejahterakan manusia, bukan sekadar mempercantik angka statistik.













